Kisah Mereka

“Tahun 2022 menjadi ujian bagi cinta kami. Susi (Muslim) ingin menikah secara Islam, sementara saya (Kristen) membutuhkan legalitas sipil agar bisa membawa Susi tinggal di Jerman. Sempat bingung mencari jalan tengah, akhirnya kami menemukan solusi di sini. Kami menikah dengan dua tata cara: sah secara agama, dan sah tercatat negara. Kini, kami hidup bahagia di Jerman dengan keyakinan kami masing-masing yang tetap utuh.”

Bernard & Susi

“Setelah 4 tahun pacaran, kami memutuskan untuk menghormati akar kami masing-masing. Saya (Muslim) dan Andreas (Katolik) melangsungkan dua upacara (Pemberkatan dan Akad Nikah) di Jakarta agar kedua orang tua kami lega melihat anaknya didoakan sesuai keyakinan mereka. Kini, 2,5 tahun berlalu, kami hidup bahagia di Bogor bersama buah hati kami. Kami makin yakin: Tuhan itu Maha Mencintai keberagaman.”

Tika & Andreas

“Kami bertemu saat kuliah di Amerika, tapi tantangan sesungguhnya justru saat kembali ke Indonesia. Tiga tahun lamanya saya (Kristen) dan Gisca (Muslim) mencari cara untuk bersatu, namun selalu buntu. Titik terang muncul saat sahabat merekomendasikan tim konselor ini. Hanya butuh 2 bulan diskusi, kami akhirnya menikah dengan dua tata cara agama. Kedua keluarga sangat lega dan bahagia karena ada tokoh agama yang bijak memberikan solusi, bukan penghakiman.”

Alex & Gisca

“19 tahun pacaran tanpa kepastian membawa kami ke ambang usia 40 dengan ketakutan besar: tua dan tanpa keturunan. Ayah saya (Muslim) sangat membenci Rico (Kristen), bahkan menolak hadir di pernikahan kami. Namun, satu kali konsultasi hukum memberi kami keberanian untuk maju demi cinta kami.


7 tahun berlalu, Tuhan menjawab kenekatan kami. Kami dianugerahi keturunan dan karir yang melesat. Keajaiban terbesar? Ayah saya luluh total. Rico yang dulu ditolak, kini malah jadi menantu kesayangan Ayah, sampai-sampai saya sering cemburu melihat keakraban mereka!”

Rico & Amanda